KOMPAS.com – Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai berpotensi menjadi celah promosi produk pengganti air susu ibu (ASI) secara massal. AIMI meminta pemerintah meninjau ulang petunjuk teknis (juknis) dan menu MBG, terutama terkait pemberian susu formula kepada balita.
Hal tersebut disampaikan dalam konferensi pers AIMI dalam rangka Pekan Menyusui Dunia 2026 yang diikuti Kompas.com secara daring pada Rabu (29/7/2026). Dalam konferensi pers tersebut, AIMI menilai program MBG memiliki cakupan distribusi yang sangat luas sehingga perlu dipastikan tidak dimanfaatkan sebagai sarana promosi produk pengganti ASI secara tidak etis.
Baca juga: Mengapa Susu Formula Anak Tidak Boleh Melalui Proses Pengolahan Panjang? AIMI soroti pemberian susu formula dalam program MBG Perwakilan AIMI, Gina Sabrina, mengatakan salah satu catatan yang disoroti pihaknya adalah keberadaan susu formula dalam juknis MBG untuk balita.
Menurut dia, penerima manfaat MBG bukan hanya anak sekolah, tetapi juga ibu hamil, ibu menyusui, dan kelompok lainnya. AIMI sebelumnya juga telah melakukan audiensi ke DPR bersama Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak untuk membahas program tersebut.
Baca juga: Syarat Penerima Rumah Subsidi Diperketat Lewat Face Scan dan Dukcapil “Karena perlu diingat salah satu penerima manfaat dari program MBG itu bukan hanya siswa sekolahnya, tapi juga ibu hamil dan ibu menyusui,” kata Gina yang kerap disapa Monik itu.
Ia mengatakan, pemberian produk pengganti ASI secara massal melalui program pemerintah dapat menciptakan persepsi bahwa produk tersebut direkomendasikan oleh pemerintah.
Terlebih, program MBG didistribusikan secara luas di berbagai wilayah Indonesia. “Ketika kita menerima sebagai penerima manfaat, oh ada susu kotak nih. Oh, ini pemerintah saja pakai. Berarti bagus dong,” ujar Monik.
Menurut AIMI, kondisi tersebut dapat menjadi celah bagi promosi produk pengganti ASI secara tidak etis.
